Wirausaha Muslim

pilih kerja atau usaha sendiri

Lulus Kuliah, Pilih Kerja atau Wirausaha? Ini 6 Hal yang Harus Kamu Pertimbangkan Kerja atau wirausaha? Yang mana yang lebih baik? Simak artikel ini untuk meyakinkan dirimu.

Lulus kuliah mau ngapain ya?
Apakah kamu sudah pernah membaca artikel Setelah Lulus Kuliah, Bekerja di Perusahaan yang Mapan atau Start-Up? Simak Plus Minus dari Kedua Pilihan Ini!? Saya menyadari bahwa sebenarnya masih banyak pilihan aktivitas sesudah lulus kuliah. Bekerja hanyalah salah satunya, karena mungkin saja kamu berminat untuk langsung melanjutkan ke jenjang S2.

Di sisi lain, saya juga melihat tren menjadi wirausaha muda sedang marak diperbincangkan. Ketika saya kuliah dulu, kampus saya sudah mencanangkan program untuk menjadi entrepreneur university. Saya pun tergugah untuk mendirikan bisnis saya sendiri selepas kuliah. Sambil bekerja, saya merancang brand pakaian untuk muslimah, yang berhenti berkembang (alias gagal) setahun kemudian. Meskipun demikian, saya sama sekali tidak menyesal. Jika memungkinkan dan ada kesempatan, saya ingin sekali berwirausaha lagi sesudah lulus S2 nanti.

Berdasarkan pengalaman saya, dan juga pengamatan yang saya lakukan terhadap beberapa wirausaha muda, setidaknya ada enam hal yang harus kamu pertimbangkan sebelum mengambil keputusan: apakah akan bekerja, atau berwirausaha?

Gaji tetap vs penghasilan tak terbatas

Ketika kamu lulus kuliah, tentu kamu ingin membiayai hidupmu sendiri. Rata-rata perusahaan siap memberimu gaji di atas UMR. Apalagi jika kamu memiliki pengalaman kerja part time saat masih kuliah, atau pengalaman berorganisasi yang dianggap mumpuni. Namun, kamu harus puas dengan gaji yang nominalnya relatif tetap selama beberapa waktu. Biasanya, perusahaan memberikan kenaikan gaji sesudah kamu melewati masa percobaan (tiga bulan), tahun pertama, lalu menyesuaikan dengan kebijakan perusahaan. Sementara, jika kamu berwirausaha, kamu bisa ‘merancang’ sendiri penghasilanmu. Pada awal kamu merintis bisnis, mungkin pendapatanmu tidak seberapa. Seiring berjalannya waktu, kamu bisa saja mendapat omzet besar yang tentunya berdampak pula pada profit.

Jam kerja tetap vs jam kerja fleksibel

Siapa bilang jadi pengusaha memiliki jam kerja lebih sedikit daripada karyawan? Yang lebih tepat, kamu bisa memprogram sendiri jam kerjamu. Namun, hal ini juga akan berpengaruh pada omzet bisnismu. Misalnya kamu membuka toko, jika kamu siap buka selama 24 jam, tentu pendapatanmu akan semakin besar. Selain itu, di saat karyawanmu sudah pulang kantor, kamu harus melanjutkan pekerjaan seperti evaluasi, pembukuan keuangan, membuat rencana bisnis, dan sebagainya. Memang sebagian karyawan juga dituntut untuk lembur, namun mereka tidak perlu terbebani dengan hal-hal di luar pekerjaan mereka. Sementara kamu harus terus memantau perkembangan bisnismu. Bahkan, kamu harus bekerja pada akhir pekan dan hari-hari libur nasional. Apakah kamu siap dengan konsekuensi ini?

Modal keahlian vs modal uang

Kalau kamu memilih untuk bekerja alias ikut orang, kamu bisa dengan mudah mengawali pekerjaanmu kapan saja. Kamu hanya tinggal melamar pekerjaan dan menunggu lamaranmu diterima. Sedangkan calon pengusaha pastinya dihadapkan dengan kebutuhan modal. Dari mulai lokasi usaha, bahan atau alat untuk menciptakan produk, memberikan upah untuk pekerja, dan sebagainya. Bahkan ketika kamu membuka usaha berupa layanan jasa, kamu tetap harus mengeluarkan modal yang tidak sedikit untuk mempromosikan bisnismu. Saya pun dulu ‘menjual’ proposal kepada beberapa investor. Saya cukup beruntung mendapat investor yang tetap mempercayai dan mendukung saya meski akhirnya gagal. Selain investor, ada banyak sekali cara untuk mendapatkan modal usaha, kamu hanya perlu terus berusaha.

Keinginan pribadi vs keinginan orang tua

Tidak semua orang tua menginginkan anaknya bekerja di perusahaan yang sudah terkenal mapan. Contohnya, orang tuamu ingin kamu meneruskan usaha yang telah mereka jalankan bertahun-tahun. Jika bisnis tersebut tergolong sukses, seperti bisnis fashion yang diwarisi oleh Dian Pelangi dari orang tuanya, mungkin kamu akan mengiyakan. Namun, jika bisnis orang tuamu sedang lesu dan menuntut kreativitasmu, kamu harus menyiapkan tenaga ekstra untuk bisa menyelamatkan bisnis tersebut. Kamu harus berjuang dengan sungguh-sungguh, karena bisa jadi keluargamu bergantung padamu. Namun, bagaimana jika yang terjadi adalah sebaliknya? Kamu ingin berwirausaha, akan tetapi orang tuamu ingin melihatmu bekerja sebagai PNS. Diskusikan baik-baik dan pikirkan secara matang akan baik-buruknya.

Pakaian formal vs pakaian casual

Kalau kamu makan siang di mall pada hari kerja, kamu akan melihat beragam dress code karyawan dari berbagai perusahaan. Sementara kamu harus puas dengan baju ‘belel’ untuk melayani mereka. Ya, kamu memilih untuk membuka usaha makanan. Kadang kamu tidak memiliki waktu untuk memilih pakaian. Atau kamu merasa percuma untuk mengenakan pakaian bagus, toh kamu akan berkeringat karena bekerja di luar ruangan seharian. Memang hal ini adalah hal yang terlihat remeh dibandingkan hal lainnya. Jangan sampai pakaian membuatmu lupa akan tujuanmu yang sebenarnya. Kamu bisa merancang pakaian kerja yang nyaman dan tetap membuatmu terlihat keren.

Mencari pengalaman vs menciptakan pengalaman

Biasanya, fresh graduate yang bekerja di perusahaan sesudah lulus kuliah adalah mereka yang ingin memperkaya pengalaman pribadi. Mereka terkenal dengan ‘main aman’, walaupun pada dasarnya menjadi karyawan juga menuntut komitmen tersendiri untuk bekerja secara serius. Sementara buat kamu yang percaya diri, kamu ingin mengeksplorasi hal yang berbeda. Kamu sadar ada proses yang harus kamu lewati agar bisa meraih keberhasilan. Kamu berani membuat jalanmu sendiri.

Pada akhirnya, saya percaya entrepreneurship adalah sebuah mindset. Seorang karyawan yang mencintai pekerjaannya dan siap memberikan segenap usahanya, tentu juga bisa meraih kesuksesan. Bagi kamu yang pengusaha, kamu melihat klien sebagai raja. Sementara kamu yang karyawan juga harus memperlakukan klien dengan sebaik-baiknya. Percayalah bahwa pekerjaan yang kamu lakukan secara tulus akan memberikan banyak berkah untukmu. Apapun pilihanmu, tidak ada yang lebih bergengsi antara satu dari yang lainnya. Jika kamu terus menambah wawasan, kamu akan bisa menciptakan perubahan sosial. Baik dari perusahaan tempatmu bekerja, atau usaha yang kamu rintis. Jadi, sudah menentukan langkah?

Print Friendly, PDF & Email